Jika anda berkunjung ke Malaysia atau bertemu dengan orang Malaysia, berhati-hatilah berbicara kepada mereka karena walaupun hampir bisa dipastikan bahwa kita mengerti apa yang mereka ucapkan, tetapi ada beberapa kata yang maknanya sangat jauh berbeda atau bahkan mungkin bertolak belakang.
Untuk mengungkapkan suatu maksud yang sama pun terkadang redaksionalnya berbeda. Seperti contoh: kalimat “kapan pulang?” adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sudah umum dimengerti. Tetapi di Malaysia mereka mempunyai redaksional yang sedikit berbeda untuk pertanyaan yang sama. Disana mereka akan bertanya “bila balik?” dengan bunyi huruf “k” di akhir yang disamarkan atau tidak di ucapkan sama sekali.
Selain itu ada pula kata yang sama, tetapi berbeda makna. Sebagai contoh ketika transTV mengadakan acara talk show dengan adiknya Dr. Azhari, pembawa acara menanyakan: “apakah anda sudah menyewa seorang pengacara untuk menangani kasus ini?”
Untuk mengungkapkan suatu maksud yang sama pun terkadang redaksionalnya berbeda. Seperti contoh: kalimat “kapan pulang?” adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sudah umum dimengerti. Tetapi di Malaysia mereka mempunyai redaksional yang sedikit berbeda untuk pertanyaan yang sama. Disana mereka akan bertanya “bila balik?” dengan bunyi huruf “k” di akhir yang disamarkan atau tidak di ucapkan sama sekali.
Selain itu ada pula kata yang sama, tetapi berbeda makna. Sebagai contoh ketika transTV mengadakan acara talk show dengan adiknya Dr. Azhari, pembawa acara menanyakan: “apakah anda sudah menyewa seorang pengacara untuk menangani kasus ini?”
Yang ditanya seperti kebingungan, dan balik bertanya "pengacara? pengacara apa?"
Setelah dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah “apakah anda sudah menyewa seorang lawyer”, baru dia mengerti maksud dari pertanyaan itu.
Ternyata di Malaysia kata “pengacara” bermakna “pembawa acara” dalam suatu acara atau pertunjukan, kalau di Indonesia lumrah disebut MC (master of ceremony). Langsung mengadopsi kata asli dari bahasa Inggris.
Ada juga kata yang sama, tetapi maknanya jauh berbeda, bahkan hampir berkonotasi negatif. Seorang teman dari Malaysia yang baru saya kenal bercerita bahwa di univeristas tempatnya sekolah dahulu ada seorang asisten dosen berkewarganegaraan Indonesia. Ketika ada seorang mahasiswanya yang bertanya tentang suatu persoalan yang berhubungan dengan mata kuliah yang dia ajarkan, si asisten dosen dengan entengnya berkata “ah…gampang itu!”
Tiba-tiba saja seluruh kelas menjadi hening, tidak ada yang berbicara sedikitpun dan suasana pun menjadi sangat tegang. Si mahasiswa langsung keluar kelas dan mengadu ke pimpinan fakultas bahwa si asisten dosen telah berkata yang tidak senonoh di depan kelas.
Lho? Apa yang dimaksud dengan tidak senonoh?
Ada juga kata yang sama, tetapi maknanya jauh berbeda, bahkan hampir berkonotasi negatif. Seorang teman dari Malaysia yang baru saya kenal bercerita bahwa di univeristas tempatnya sekolah dahulu ada seorang asisten dosen berkewarganegaraan Indonesia. Ketika ada seorang mahasiswanya yang bertanya tentang suatu persoalan yang berhubungan dengan mata kuliah yang dia ajarkan, si asisten dosen dengan entengnya berkata “ah…gampang itu!”
Tiba-tiba saja seluruh kelas menjadi hening, tidak ada yang berbicara sedikitpun dan suasana pun menjadi sangat tegang. Si mahasiswa langsung keluar kelas dan mengadu ke pimpinan fakultas bahwa si asisten dosen telah berkata yang tidak senonoh di depan kelas.
Lho? Apa yang dimaksud dengan tidak senonoh?
Untuk orang indonesia ungkapan tersebut tidak berkonotasi negatif, biasa saja. Ungkapan tersebut bermakna bahwa persoalan itu mudah, enteng, atau tidak sulit. Tetapi jangan samakan dengan di Malaysia., lain di Indonesia, lain pula di Malaysia. Ternyata kata “gampang” di Malaysia berarti “anak diluar nikah”.
*.....wualah...* ?!? sangat jauh berbeda kan?
Jadi lebih baik behati-hati dalam berbicara dengan mereka untuk mencegah hal-hal yang tidak terduga seperti disebutkan diatas. Jika tidak yakin, pake aja padanan katanya dalam bahasa Inggris, karena mereka lebih mahfum bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia.
Ada yang lebih menarik dari cerita pendek ini. Ternyata sang asisten dosen adalah mahasiswa Geodesi ITB angkatan 95, yang dahulu di-OS oleh saya dan teman-teman IMG lainnya. Saya masih ingat kisah usang 11 tahun yang lalu ini karena kami sering sekali ngerjain dia (in term of perpeloncoan). Orangnya sangat lugu dan polos, dan selalu menurut apapun yang diperintahkan seniornya pada saat OS; namanya adalah Mondali. Anggota IMG angkata 92, 93, dan 94 pasti masih ingat tentang cerita lucu ini.
Ada yang lebih menarik dari cerita pendek ini. Ternyata sang asisten dosen adalah mahasiswa Geodesi ITB angkatan 95, yang dahulu di-OS oleh saya dan teman-teman IMG lainnya. Saya masih ingat kisah usang 11 tahun yang lalu ini karena kami sering sekali ngerjain dia (in term of perpeloncoan). Orangnya sangat lugu dan polos, dan selalu menurut apapun yang diperintahkan seniornya pada saat OS; namanya adalah Mondali. Anggota IMG angkata 92, 93, dan 94 pasti masih ingat tentang cerita lucu ini.
1 comment:
Teman gw ini memang hebat euy..... pasti selalu bikin gw salut hehehehe......
Post a Comment